Sehat vs Sakit,, pelayanan kesehatan baik vs buruk ,, Dokter vs Pasien


Semakin tahun pertumbuhan penduduk semakin cepat, jumlah penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun, hal ini menyebabkan permasalahan yang kompleks terjadi di masyarakat saat ini, salah satunya kesehatan yang sangat menentukan kualitas generasi bangsa. Tidak dapat dipungkiri masih banyak terjadi busung lapar,kurang gizi walaupun di daerah marginal perkotaan, serta ispa yang saat ini menjadi trend pesakitan utama di banyak wilayah kerja puskesmas yang utamanya diderita oleh balita karena kepadatan penduduk didaerah marginal dimana sanitasi dan hygiene yang masih sangat kurang, serta pencemaran udara. Sangat miris melihat kehidupan pinggiran kota dengan rumah-rumah yang kecil, sempit dan dapat dikatakan kumuh seperti saat beberapa bulan yang lalu saya lakukan dengan beberapa teman, mengunjungi dan melihat serta melakukan suatu kegiatan dengan melewati gang gang tikus yang membuat sesak dada karena kualitas udara yang masih dibawah standar layak untuk dihuni oleh manusia.

Kesehatan menjadi modal yang sangat penting bagi tiap individu sebagai tolok ukur produktivitas dalam menjalani aktivitas terutama bekerja untuk menghasilkan uang dan menafkahi keluarga. Bayangkan jika seseorang yang miskin sebagai tulang punggung keluarga harus jatuh sakit karena penyakit yang diderita,tidak bisa dibayangkan kesedihan anggota keluarganya serta betapa repotnya harus mengurus dan mengatur segala kebutuhan yang dibutuhkan untuk pengobatan .

hal ini meyebabkan industri kesehatan di Indonesia selalu ada intervensi dari pemerintah karena kesehatan merupakan barang sosial terutama terkait dengan pelayanan kesehatan seluruh masyarakat atau upaya kesehatan masyarakat, selain itu kesehatan merupakan hak asasi manusia karena negara yang tidak berpihak pada health care maka melanggar Hak asasi manusia sehingga hal yang harus benar benar dilakukan adalah pendataan masyarakat miskin dengan benar dan perlunya pengaturan pendataan masyarakat miskin.

Kualitas kesehatan merupakan suatu indikator baik buruknya suatu negara karena dengan kualitas kesehatan serta pelayanannya yang baik maka dapat dijamin keberhasilan suatu negara dalam mengatasi dan memegang kendali segala masalah yang terkait dengan kesehatan, Kesehatan merupakan suatu hak asasi manusia sehingga adanya campur tangan pemerintah dapat dilakukan divide pembiayaan antara pemerintah dan masyarakat/ swasta, tidak semua dilakukan oleh pemerintah tetapi juga biaya sebagian dibebankan kepada masyarakat, khususnya hal hal yang umum terkait pembiayaan upaya kesehatan masyarakat merupakan tanggungan dari pemerintah sendiri, sedangkan upaya kesehatan perseorangan merupakan tanggungan masyarakat sendiri kecuali masyarakat miskin pada upaya kesehatan perseorangan menjadi tanggungan pemerintah.

Kejadian sakit merupakan hal yang tidak pasti atau merupakan suatu ketidak pastian sehingga orang pada umumnya belum siap untuk mengatasi kejadian sakit baik secara fisik maupun materil khususnya masyarakat miskin,adanya ketidaksiapan tersebut menyebabkan ketidakpastian dalam memperoleh pelayanan kesehatan karena pembiayaan yang tidak pasti dan hal ini menyebabkan output kesembuhan menjadi tidak pasti.

Konsumen pada pelayanan kesehatan (pasien) merupakan konsumen panik karena ketidaksiapan dalam pembiayaan serta konsumen yang tidak siap untuk membeli pelayanan kesehatan atau berobat sehingga khususnya masyarakat miskin atau masyarakat pada umumnya, apapun akan dilakukan demi kesembuhan meskipun harus jatuh miskin dan bangkrut sekalipun, hal ini yang menyebabkan atau mempengaruhi konsumen/masyarakat membeli pelayanan kesehatan serta karakteristik budaya khususnya dalam mencari pelayanan kesehatan apakah harus menunggu sakit dahulu baru ke pelayanan kesehatan atau apakah pelayanan kesehatan tersebut bertentangan dengan kebiasaan masyarakat sekitar semisal mereka lebih percaya dengan pergi ke dukun.

Faktor dominan dalam pelayanan kesehatan itu adalah peran dokter (peran utama) mengapa?? karena dokter disini mempunyai peran yang utama sebagai advisor atau pemberi nasehat kepada pasien sebagai konsumen pelayanan kesehatan selain itu peran utama dokter yaitu sebagai supplier pelayanan kesehatan sehingga dapat dibayangkan pasien dalam keadaan sakit masih harus membeli beberapa obat yang terkadang harganya diluar jangkauan pasien untuk membeli lalu kemana pasien harus berteriak???sudah sakit harus menanggung biaya kesakitan yang mahal?? hal ini terjadi karena pengetahuan yang tidak simetrik atau tidak sama antara provider khususnya dokter sebagai pemberi pelayanan pengobatan dengan konsumen khususnya pasien sehingga pada umumnya konsumen/pasien dalam pelayanan kesehatan menjadi paling lemah posisinya, terbukti masih banyaknya kejadian mal praktik dibeberapa kasus dan pelayanan kesehatan, ini terjadi karena pasien sebagai konsumen tidak punya kewenangan untuk membeli atau menentukan sendiri keinginan pengobatannya, karena pengetahuan pasien yang kurang sehingga kadang bisa dimanfaatkan oleh dokter.

Dalam pembiayaan pelayanan kesehatan, real biaya yang dikeluarkan umumnya lebih besar / tinggi dari kemampuan daya beli pasien sebagai konsumen khususnya masyarakat miskin, sehingga pada masyarakat miskin kekuatan antar anggota keluarga lebih besar untuk membantu pembiayaan atau pengeluaran yang digunakan untuk berobat.

Dengan melakukan SOP atau melakukan prosedur tetap seperti memberikan informasi kepada pasien akan mengurangi peran dokter dalam melakukan moral hazard hal ini dilakukan agar dapat diketahui bahwa tindakan pengobatan yang akan dilakukan benar-benar bermanfaat dan memang tidak merugikan pasien. Provider khususnya dokter dapat memberikan option atau pertimbangan kepada pasien akan tindakan apa yang dapat dan harus dilakukan sesuai kebutuhan pasien, tetapi provider tidak dapat memaksa pasien kecuali keadaan mendesak untuk menolong nyawa pasien karena dalam pengambilan keputusan untuk permintaan dalam pelayanan kesehatan itu adalah pasien.

Dokter sebagai supplier pelayanan kesehatan merupakan suatu peran dalam pelayanan kesehatan, dengan memberikan suatu peningkatan insentif kepada dokter seperti gaji atau insentif lainnya akan sulit meningkatkan motivasi dokter untuk bekerja lebih baik karena dokter di Indonesia berbeda dengan dokter di luar negeri, dokter di Indonesia tidak hanya bekerja pada satu lembaga atau instansi (rumahsakit/puskesmas) tetapi membuka banyak praktik selain praktik utama di salahsatu instansi , berbeda dengan dokter diluar negeri, peningkatan insentif akan meningkatkan motivasi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien sebagai konsumen karena dokter diluar negeri hanya mempunyai satu praktik ,sehingga kinerjanya akan meningkat seiring dengan insentif lebih yang diberikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: