Virus Kutil di Rahim Wanita

Butuh waktu bertahun-tahun dan harus rela “makan hati” bagi Ilmuwan Jerman ini untuk meyakinkan dunia bahwa virus kutil bisa menyebabkan kanker. Ia akhirnya diganjar dengan Nobel.

STOCKHOLM — Sejak awal 1970-an lalu, ahli virologi Jerman, Harald zur Hausen, yakin bahwa virus papilloma “bertanggung jawab” terhadap kanker mulut rahim. Tapi saat itu tak banyak–kalau tidak bisa dibilang tak ada–orang yang mempercayainya.

Saat itu, keyakinan yang ada adalah kanker mulut rahim disebabkan oleh virus herpes tipe 2. Mereka berpikir, bagaimana mungkin papilloma bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada kutil di kulit.

Sebuah konferensi internasional di Florida, Amerika Serikat, pernah menjadi saksi bahwa riset yang dilakukan Hausen direndahkan oleh yang lain. Waktu itu, beberapa saat sebelum Hausen naik ke panggung untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, seorang peneliti dari Chicago menyatakan bahwa ia sudah mengisolasi 40 persen genom herpes dari sebuah spesimen kanker mulut rahim. Jadilah presentasinya saat itu ditanggapi dengan dingin. Hasil penelitiannya malah dituding tidak sensitif.

Pada 1980-an, seorang peneliti di Amerika mengungkapkan bahwa lembaga keuangan di negerinya telah ikut-ikutan menolak proposal permohonan dana bagi penelitian tentang kaitan antara virus papilloma dan kanker. Sayang, National Institutes of Health tidak bersedia memberikan keterangannya soal itu.

Kini, sekitar 30 tahun berselang, ketekunan Hausen berbuah manis. Senin lalu, Komite Nobel di Institut Karolinska di Swedia mengumumkannya sebagai satu di antara tiga pemenang Nobel Kedokteran tahun ini. Hausen disandingkan dengan duo peneliti Prancis penemu virus AIDS (HIV) dan dianggap sangat berjasa karena telah mengurangi beban kesehatan publik di dunia.

Khusus temuan Hausen, Komite Nobel menilai hal itu telah membimbing para ilmuwan ke arah pengembangan dua macam vaksin pelindung wanita dari kanker mulut rahim. Dengan jumlah korban yang setiap tahunnya mencapai 250 ribu wanita di seluruh dunia (delapan dari 10 korban adalah wanita di negara berkembang), kanker ini menjadi momok menakutkan kedua bagi kaum Hawa.

Pada November 2004 lalu, kelompok studi vaksin HPV GlaxoSmithKline melaporkan vaksin temuan mereka dalam Jurnal Lancet yang bisa 100 persen melindungi wanita dari kanker mulut rahim. Caranya yakni dengan menyumbat pertumbuhan HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 dan 18. “Vaksin ini aman dan memiliki toleransi yang cukup baik,” begitulah isi tulisan mereka.

Hampir setahun berselang, tim dari perusahaan farmasi, Merck, melaporkan bahwa vaksin buatan mereka mampu melindungi wanita sampai 90 persen dari virus HPV 6, 11, 16, dan 18. “Ini adalah masa yang menyenangkan untuk kita semua dalam urusan pencegahan kanker mulut rahim,” tutur Alex Ferenczy dari McGill University yang juga terlibat dalam penelitian itu.

Sekarang dunia dan khususnya kaum wanita bisa bergembira. Tapi, sebelumnya, butuh bertahun-tahun bagi Hausen untuk bisa meyakinkan dunia tentang hubungan papilloma–virus kutil pada kulit–dengan kanker mulut rahim itu. Ilmuwan yang sebenarnya tertarik pada penyakit menular, bukan kanker, itu juga harus bolak-balik menyatakan gagal mendapatkan bukti DNA virus herpes tipe 2 dalam sel kanker mulut rahim.

Profesor yang satu ini juga keukeuh pada hasil penelitiannya bahwa HPV bukanlah makhluk hidup yang homogen. Virus itu bisa sangat bervariasi. Pada 1983, Hausen menemukan HPV tipe 16-nya yang pertama dari biopsi terhadap wanita yang mengidap kanker mulut rahim.

Lalu, ia juga menemukan fakta bahwa ada lebih dari satu varian HPV yang bisa memicu kanker mulut rahim. Ia menunjukkannya dengan cara mengklon HPV16 dengan HPV18. Dalam perkembangannya, terbukti bahwa kedua varian itu secara konsisten ditemukan pada sekitar 70 persen kanker mulut rahim di dunia.

Hausen berhak atas separuh dari uang tunai senilai 10 juta kronor (atau lebih dari Rp 13 miliar) atas penghargaannya itu. “Saya tidak menyangka mendapatkannya,” katanya dengan singkat. AFP/NYTIMES/NOBELPRIZE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: