Rajab

Dan bulan Rajab adalah bulan taubah, seorang ulama’ ahli hadits Al-Imam Muhammad bin Abdullah Al Jardani Rohimahullah menerangkan dalam kitab hadits Misbahud-dholam bahwa : “Diterangkan dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu, orang yang membaca َ

َرْب اْغِفْرلَّي َواْرَحَمِْنََّي َوُتْب َعَََّّلَّي

(Rabbighfirli Warhamni Watub Alayya)

Dibaca 70 x setiap ba’da isya’ atau waktu pagi dan sore bulan Rajab,

“Orang tersebut akan terhindar dari siksaan api neraka (dosa-dosanya diampuni oleh Allah)

i thought this is wonderful plan from my country .. im so proud ..

Catatan Dahlan Iskan

Manufacturing Hope 28

Belum pernah soal mobil listrik dibahas seserius ini. Serius pembahasannya, tinggi level yang membahasnya, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri inisiatornya. Bahkan beliau sendiri pula yang memimpin rapatnya.

Ini terjadi, Jumat sore (25/5) lalu di Istana Negara Jogjakarta. Lebih separo menteri anggota kabinet hadir. Semua rektor perguruan tinggi terkemuka diundang: UI, ITB, ITS, UNS, UGM, dan lain-lain. Para rektor itulah yang menyiapkan presentasi hasil kajiannya. Saya sendiri menghadirkan “Pendawa Putra Petir” yang kini sedang menyiapkan prototipe mobil listrik nasional.

Para rektor itu, di bawah koordinasi Mendikbud Muhammad Nuh dan Menristek Gusti Muhammad Hatta, secara mengejutkan menyajikan hasil kajian akademik yang sangat lengkap dan mendalam.

Padahal, Presiden SBY hanya memberi waktu 2,5 bulan kepada mereka. Presiden memang pernah mengundang para rektor itu ke Istana Jakarta. Untuk meminta pandangan mereka mengenai realistis tidaknya mobil listrik nasional. Presiden lantas minta kajian akademiknya. Waktu 2,5 bulan ternyata cukup untuk mereka.

Lihat pos aslinya 947 kata lagi

Etika bercinta dalam Islam

Berhubung sex merupakan salah satu kebutuhan bagi teman-teman yang telah dikarunia pasangan maka berikut saya mendapatkan beberapa tahap-tahap bercinta yang baik dalam Islam, semoga bermanfaat:

Perihal hubungan seksual (bercinta), Rasulullah SAW memberi petunjuk yang sangat sempurna, beralas etika dan estetika Rabbaniyah (ketuhanan). Bercinta tidak saja untuk menyehatkan jiwa, namun juga memberi kepuasan serta kenikmatan jiwa. Pitutur Rasulullah SAW tentang bercinta (senggama) adalah nasehat paripurna, utamanya demi menjaga kesehatan tubuh, mental, dan spiritual, berikut mewujudkan tujuan bersenggama itu sendiri. Diantara tujuan hubungan seksual menurut ajaran Islam ialah:

  1. Melahirkan dan menjaga kelangsungan keturunan. Dengan kelahiran putra-putri buah senggama, nantinya diharapkan akan lahir generasi penerus bagi keluarga dan kommunitas serta kesinambungan suatu bangsa;
  2. Mengeluarkan air (sperma) berdampak positif bagi tubuh. Sebab apabila iar sperma dibiarkan mengendap di dalm tubuh tanpa disalurkan ke ladang tempat bercocok tanam (fitrah penyaluran), akan berdampak buruk bagi tubuh maupun mental seseorang;
  3. Media untuk menyalurkan hajat, guna merengkuh kenikmatan surga duniawi. Bedanya, bersenggama di dunia bisa melahirkan anak, sedang di surga keabadian tidak akan membuahkan anak, semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan baik, sesuai dengan etika dan estetika, serta aturan luhur yang selaras dengan nilai-niilai ajaran Islam.

Etika Sebelum Bercinta
Ajaran Islam mengajarkan etika senggama, yang harus dipahami setiap Muslim. Ada banyak ayat al-Quaran dan Sunnah Nabi yang menuturkan masalah etika bercinta ini. Karenanya, sebelum bercinta, setiap Muslim harus memperhatikan etika (adab) dan prasyarat bersenggama sebagai berikut:

Pertama, Tidak Menolak Ajakan Bercinta. Secara tabiat maupun fitrah, para lelaki lebih agresif, tidak memiliki energi kesabaran, serta kurang bisa menahan diri dalam urusan making love ini. Sebaliknya, para wanita cenderung bersikap pasif, pemalu, dan kuat menahan diri. Oleh sebab itu, diharuskan bagi wanita menerima dan mematuhi ajakan suami untuk bercinta. Dalam sebuah hadis dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Jika seorang istri dipanggil oleh suaminya karena hajat biologisnya, maka hendaknya segera datang, meski dirinya sedang sibuk (HR Turmudzi). Ajaran Islam tidak membenarkan perilaku para istri yang menolak ajakan suami mereka untuk bercinta. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat wanita yang menunda-nunda, yaitu seorang istri ketika diajak suaminya ke tempat tidur, tetapi ia berkata, ‘nanti dulu’, sehingga suaminya tidur sendirian (HR Khatib). Dalam hadis lain dituturkan: Jika suami mengajak tidur istrinya, lalu sang istri menolak, yang menyebabkan sang suami marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat istri tersebut sampai pagi tiba (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Bersih dan Suci. Haid adalah penyakit bulanan yang tidak suci, wanita yang sedang haid berarti tidak suci. Karenanya, para suami yang istri mereka sedang mengalami datang bulan dilarang mensetubuhinya selama waktu haid. Manakala darah haid sudah berhenti, maka wajib bagi wanita membersihkan tubuhnya dengan air. Kemudian mengambil ‘secuil’ kapas atau kain, lalu melumurinya dengan kasturi atau bahan pewangi lainnya yang beraroma semerbak menawan, kemudian membilas bagian tubuh yang terlumuri darah saat haid, sehingga tidak ada lagi bau tak sedap pada tubuh sang wanita. Dalam sebuah riwayat dari Aisyah Ra dituturkan, suatu hari, ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang cara bersuci (membersihkan diri) sehabis datang bulan. Rasulullah SAW bertutur kepada wanita tersebut: Ambillah bahan pewangi dari kasturi. Bersihkan dirimu dengannya. Wanita itu bertanya: Bagaimana caraku membersihkan tubuh? Rasulullah SAW menjawab: Bersihkan tubuhmu dari noda haid. Wanita itu bertanya lagi: Bagaimana caranya? Rasulullah SAW menjawab: Subhanallah, bersihkan dirimu! Aisyah Ra melanjutkan penuturannya: Aku lantas membisiki wanita itu, ‘Bilas tubuhmu yang terlumuri darah haidmu dengan pewangi kasturi’ (HR Bukhari).

Allah Azza wa Jalla juga menyatakan di dalam firman-Nya, bahwa syarat untuk melakukan hubungan badan ialah harus dalam kondisi suci. Kesucian tubuh dari ‘penyakit’ haid adalah demi mewujudkan seks sehat, sebagaimana firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah. Haid itu adalah kotoran (penyakit). Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. al-Baqarah/2: 222).

Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada para suami, agar tidak menyetubuhi istri mereka dalam keadaan nifas dan haid. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang bersenggama dengan wanita yang sedang haid, atau menyetubuhi wanita dari dubur (lubang anus)-nya, atau mendatangi paranormal (ahli tenung), dan mempercayai ramalannya, Maka sejatinya ia telah kufur (ingkar) dengan apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW (HR Abu Daud). Dalam riwayat lain dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Datangilah istrimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi awas (jangan menyetubuhi) pada dubur dan (jangan pula) dalam keadaan haid (HR Akhmad dan Tirmidzi). Lain daripada itu, selain harus suci – tidak haid dan nifas – pasangan Muslim harus bersih-bersih diri sebelum bercinta, agar tubuh mereka bersih dan percintaan yang dilakukan sehat.

Ketiga, Bercinta Sesuai Aturan Syariat. Salah satu tujuan making love (bercinta) adalah untuk melahirkan keturunan. Dan proses kelahiran hanya terjadi manakala terjadi pembuahan sperma laki-laki dan perempuan dalam rahim. Karenanya, bercinta harus dilakukan dengan cara yang benar, yatitu melalui tempat yang semustinya, bukan melalui anus (dubur) maupun lisan (oral sex) – sebagaimana yang jamak dilakukan orang-orang yang memiliki kelainan seksual, serta orang yang tidak paham niali-nilai agama. Lain daripada itu, bersenggama tidak sesuai aturan sama halnya menafikan kehormatan wanita yang disetubuhinya. Dan cara seperti itu mustahil bisa melahirkan keturunan. Ajaran Islam memberi syarat, bahwa senggama harus ditempatkan pada tempat yang semustinya, yaitu vagina wanita, bukan melalui anus (dubur) atau mulut wanita (seks oral). Sebab percintaan yang dilampiaskan pada tempat selain vagina, mustahil dapat membuahkan keturunan. Oleh sebab itu, Allah Azza wa Jalla berfirman: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki (QS. al-Baqarah/2: 223).

Keempat, Berhias Diri. Diantara syarat bercinta ialah masing-masing pasangan – suami istri – harus berhias diri untuk menyenangkan dan menggairahkan percintaan yang hendak dilakukan. Diantara cara berhias diri dalam bercinta adalah:

  1. Mambagusi bagian tubuh, yang merupakan lima organ fitrah, sebagaimana dituturkan Rasulullah SAW: Lima hal yang termasuk fitrah (sesuci), yakni mencukur kumis, mencukur bulu ketiak, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan khitan.
  2. Menggunakan wewangian, yang paling utama adalah kasturi. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa tatkala seorang sahabat yang memberitahu Rasulullah SAW tentang adanya seorang wanita yang memerciki cincinnya dengan kasturi, Rasulullah SAW bersabda: Kasturi adalah sebaik-baik wewangian.
  3. Memakai celak, dan jenis celak terbaik ialah yang terbuat dari bahan itsmid. Abdullah bin Abbas meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik celak kalian adalah yang terbuat dari bahan itsmid. Ia dapat menajamkan penglihatan, serta menumbuhkan rambut. Al-Qur’an juga mengisyaratkan anjuran berhias diri bagi kaum wanita, sebagaimana firman-Nya: Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber-‘iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. (QS. al-Baqarah/2: 234) Sayyid Qutub dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa redaksi al-Qur’an membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut adalah bukti otentik, dibolehkannya bagi kaum wanita untuk berhias diri, hal mana yang demikian itu dilakukan dengan tujuan agar datang lelaki meminangnya.

Kelima, Berdoa. Diantara etika seks dalam Islam ialah membaca doa sebelum melakukan persetubuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya, maka hendaknya sebelum senggama membaca doa: Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithan, wa jannib asy-syaithana ma ruziqnaa (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari Setan. Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan). Dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir dari buah percintaan tidak goyah diperdaya setan, akan tetapi serta selalu dekat kepada Allah.

Keenam, Mencari tempat bercinta yang nyaman dan merahasiakan apa yang terjadi diantara suami istri pada waktu bercinta. Diantara syarat bercinta dalam Islam ialah mencari tempat yang nyaman dan merahasiakan apa yang terjadi pada saat bercinta, baik istri maupun suami, tidak diperkenankan menceritakan ‘geliat’ percintaan yang dilakukannya kepada orang lain. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Said Khudri, ia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: Selazimnya bagi kaum lelaki diantara kalian yang hendak memenuhi hajat biologisnya, mencari tempat yang nayaman, jauh dari hiruk pikuk keluarganya, dan menutup pintu rapat-rapat, serta mengenakan sehelai kain, barulah bercinta (bersetubuh). Kemudian apabila telah selesai bercinta, hendaknya tidak menceritakan hubungan badannya kepada orang lain. Selazimnya bagi kaum wanita diantara kalian, yang hendak memenuhi hajat biologis, mencari tempat yang nyaman, menutup pintu rapat-rapat, dan mengenakan sehelai kain untuk menutup tubuhnya. Dan jika selesai memuaskan dahaga cinta, hendaknya tidak menceritakan hubungan intimnya kepada yang lain. Salah seorang wanita berujar: Demi Allah, wahai utusan Allah, kebanyakan daripada kaum wanita menceritakan apa yang mereka alami saat senggama kepada yang lain, serta jamak melakukan percintaan di tempat terbuka. Rasulullah SAW berkata tegas. Janganlah kalian melakukan hal seperti itu – menceritakan sesuatu saat senggama dan bersetubuh di tempat terbuka, serta bertelanjang bulat. Sebab perbuatan seperti itu, sama persisnya dengan perbuatan setan pria bertemu dengan setan wanita di tengah jalan, lalu bersetubuh di tempat terbuka, setelah setan pria selesai melampiaskan dahaga seksnya, lantas meninggalkan si wanita begitu saja. Rasulullah SAW juga meyerukan untuk mengenakan kain saat bercinta, sebagaimana sabdanya: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah maha lembut, maha malu, maha menutup diri. Dia mencintai rasa malu dan menutup aurat. Menutup aurat, tidak saja dalam ‘laku’ kehidupan di ruang publik, tetapi juga saat bercinta.

Ketujuh, Tidak bercinta saat melakukan iktikaf atau sedang dalam kondisi berihram. Orang yang sedang menjalankan iktikaf di masjid tidak boleh bersenggama, demikian pula orang yang sedang berihram, juga tidak boleh bercampur dengan pasangannya, sebagaimana diwartakan al-Qur’an: Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangnlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa (QS. al-Baqarah/2: 187). Usman bin Affan meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bertutur: Orang yang sedang melaksanakan ibadah Ihram tidak boleh bersenggama, maupun menikah atau melamar (HR Muslim). Dalam riwayat Turmudzi disebut dengan redaksi: Saat berihram dilarang bersetubuh.

Kedelapan, tidak bercinta dengan istri yang sedang datang bulan (haid). Ajaran Islam melarang pasangan suami istri bercinta saat sang istri sedang datang bulan. Sebab haid adalah penyakit, dikhawatirkan bayi yang lahir dari buah senggama pada kondisi seperti itu akan tidak sempurna (cacat). Allah menjelaskan dalam al-Qur’an: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereke, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan meyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. al-Baqarah/2: 222). Ajaran Islam juga melarang suami menggauli istrinya ketika dalam keadaan nifas – usai melahirkan. Alasannya jelas, bahwa bercinta dalam ajaran Islam adalah termasuk laku ibadah, karenanya harus dilakukan pada waktu kondisi baik.

Kesembilan, memperhatikan kondisi fisik. Waktu yang paling tepat untuk melakukan hubungan badan adalah saat kondisi fisik dalam keadaan fit (segar bugar), yakni pencernaan makanan lancar, tensi tubuh seimbang antara panas dan dingin, kondisi perut tidak kenyang dan tidak lapar. Sebab bersenggama dalam keadaan tubuh tidak fit, pencernaan makanan tidak lancar, tensi tubuh terlalu panas maupun terlalu dingin, perut terlalu lapar maupun kenyang, akan membuat hububgan badan kehilangan maknanya, dan tidak bisa dinikmati bahkan melahirkan madharat (mara bahaya). Bersenggama dalam keadaan perut lapar lebih berbahaya ketimbang perut dalam keadaan kenyang. Lain daripada itu, tidak akan bisa merengkuhi nikmat senggama, lebih-lebih memberi kepuasan seksual kepada pasangan hidup. Rasulullah SAW bersabda: Jika seseorang diantara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya sebelum istri mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya), sampai istrinya menemukan kepuasan (HR Abdul Razaq).

Disadur dari : Buku Bercinta Seperti Rasulullah, Dr. Abdurrahman Thalib al-Jazairi, Januari 2009, Cahaya Hati

ORAL SEX ATAU SEX MENURUT ISLAM DALAM HADIS

ini saya dapatkan dari website yang menuangkan akan hadis atau hukum oral sex serta sex suami istri karena Islam adalah agama fitrah yang sangat memperhatikan masalah seksualitas karena ini adalah kebutuhan setiap manusia, sebagaimana

firman Allah SWT, ”Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqoroh : 223)

Ayat diatas menunjukkan betapa islam memandang seks sebagai sesuatu yang moderat sebagaimana karakteristik dari islam itu sendiri. Ia tidaklah dilepas begitu saja sehingga manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya dan juga tidak diperketat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu pekerjaan yang membosankan.

Hubungan seks yang baik dan benar, yang tidak melanggar syariat selain merupakan puncak keharmonisan suami istri serta penguat perasaan cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua maka ia juga termasuk suatu ibadah disisi Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”..dan bersetubuh dengan istri juga sedekah. Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab,’Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa?, maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Diantara variasi seksual yang sering dibicarakan para seksolog adalah oral seks, yaitu adanya kontak seksual antara kemaluan dan mulut (lidah) pasangannya. Tentunya ada bermacam-macam oral seks ini, dari mulai menyentuh, mencium hingga menelan kemaluan pasangannya kedalam mulutnya.

Hal yang tidak bisa dihindari ketika seorang ingin melakukan oral seks terhadap pasangannya adalah melihat dan menyentuh kemaluan pasangannya. Dalam hal ini para ulama dari madzhab yang empat bersepakat diperbolehkan bagi suami untuk melihat seluruh tubuh istrinya hingga kemaluannya karena kemaluan adalah pusat kenikmatan. Akan tetapi setiap dari mereka berdua dimakruhkan melihat kemaluan pasangannya terlebih lagi bagian dalamnya tanpa suatu keperluan, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah yang mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kemaluannya saw dan beliau saw tidak pernah memperlihatkannya kepadaku.” (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2650)

Seorang suami berhak menikmati istrinya, khususnya bagaimana dia menikmati berjima’ dengannya dan seluruh bagian tubuh istrinya dengan suatu kenikmatan atau menguasai tubuh dan jiwanya yang menjadi haknya untuk dinikmati maka telah terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama kami, karena tujuan dari berjima’ tidaklah sampai kecuali dengan hal yang demikian. (Bada’iush Shona’i juz VI hal 157 – 159, Maktabah Syamilah)

Setiap pasangan suami istri yang diikat dengan pernikahan yang sah didalam berjima’ diperbolehkan untuk saling melihat setiap bagian dari tubuh pasangannya hingga kemaluannya. Adapun hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang melihat kemaluan (istrinya) akan menjadi buta adalah hadits munkar tidak ada landasannya. (asy Syarhul Kabir Lisy Syeikh ad Durdir juz II hal 215, Maktabah Syamilah)

Dibolehkan bagi setiap pasangan suami istri untuk saling melihat seluruh tubuh dari pasangannya serta menyentuhnya hingga kemaluannya sebagaimana diriwayatkan dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata,” Aku bertanya,’Wahai Rasulullah aurat-aurat kami mana yang tutup dan mana yang kami biarkan? Beliau bersabda,’Jagalah aurat kamu kecuali terhadap istrimu dan budak perempuanmu.” (HR. tirmidzi, dia berkata,”Ini hadits Hasan Shohih.”) Karena kemaluan boleh untuk dinikmati maka ia boleh pula dilihat dan disentuhnya seperti bagian tubuh yang lainnya.

Dan dimakruhkan untuk melihat kemaluannya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah yang berkata,”Aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.” (HR. Ibnu Majah) dalam lafazh yang lain, Aisyah menyebutkan : Aku tidak melihat kemaluan Rasulullah saw dan beliau saw tidak memperlihatkannya kepadaku.”

Didalam riwayat Ja’far bin Muhammad tentang perempuan yang duduk dihadapan suaminya, di dalam rumahnya dengan menampakkan auratnya yang hanya mengenakan pakaian tipis, Imam Ahmad mengatakan,”Tidak mengapa.” (al Mughni juz XV hal 79, maktabah Syamilah)

Oral seks yang merupakan bagian dari suatu aktivitas seksual ini, menurut Prof DR Ali Al Jumu’ah dan Dr Sabri Abdur Rauf (Ahli Fiqih Univ Al Azhar) boleh dilakukan oleh pasangan suami istri selama hal itu memang dibutuhkan untuk menghadirkan kepuasan mereka berdua dalam berhubungan. Terlebih lagi jika hanya dengan itu ia merasakan kepuasan ketimbang ia terjatuh didalam perzinahan.

Meskipun banyak seksolog yang menempatkan oral seks ini kedalam kategori permainan seks yang aman berbeda dengan anal seks selama betul-betul dijamin kebersihan dan kesehatannya, baik mulut ataupun kemaluannya. Akan tetapi kemungkinan untuk terjangkitnya berbagai penyakit manakala tidak ekstra hati-hati didalam menjaga kebersihannya sangatlah besar.

Hal itu dikarenakan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat, hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafi’i dan Hambali adalah suci.

Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi berpenapat bahwa isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral seks) adalah haram dikarenakan kemaluannya itu bisa memancarkan cairan (madzi). Para ulama telah bersepakat bahwa madzi adalah najis. Jika ia masuk kedalam mulutnya dan tertelan sampai ke perut maka akan dapat menyebabkan penyakit.

Adapun Syeikh Yusuf al Qaradhawi memberikan fatwa bahwa oral seks selama tidak menelan madzi yang keluar dari kemaluan pasangannya maka ia adalah makruh dikarenakan hal yang demikian adalah salah satu bentuk kezhaliman (diluar kewajaran dalam berhubungan).

Ohhhh… Rasulullah SAW I love U so Much….  I miss U Sungguh indah apa yang engkau ajarkan Rasulullah bagi umatmu, engkau sungguh benar-benar mencintai kami dimana engkau tunjukkan kami tatacara yang beradab dan lembut serta benar dimata Allah SWT… Sungguh mulia akhlaq mu ya Rasulullah kekasih Allah SWT… lembut budi pekerti mu… dan lembut perangaimu… ,, I just can say “ Ya Allah,, terimakasih Engkau telah memberikan aku kehidupan saat ini dimana aku bisa mengenalMu melalui utusanMu Rasulullah dengan segala kebaikan dan kelembutan beliau secara sabar mengajarkan dan memberi contoh bagi kami bagaimana menjalani kehidupan yang baik dan benar, terimakasih ya Allah…”

ORAL SEKS MENURUT ISLAM DAN KESEHATAN

hahaha… teman-teman tertawa setelah membicarakan sesuatu sambil utak-atik didepan laptop dekat dekanat,,entah apa aja yang dibicarakan teman-teman kok sepertinya seru karena gw barusan gabung sama mereka untuk ikut maen pake wifi, teman sebelahku nyeletuk “eh ca,kalo seumpama suami elo ntar minta oral seks ke elo gimana?? yang jelas lo harus mau dunk, kan suami elo pengin kepuasan n dy yang minta” , Hal yang konyol dan masuk akal juga ,sesaat gw berpikir and gw jawab pertanyaan temen disebelah gw tuh “ Hmmm.. gw disgusting ama yang namanya oral seks,jeunk… cuz dalam kehidupan Rasulullah berumah tangga ga ada yang namanya oral seks dan Rasulullah tidak mengajarkan oral seks… hihhhh… naudzubillah itu kan perilaku orang barat yang kayak hewan… dalam logika gw yang namanya kemaluan ya di masukkan ke kemaluan bukan di masukkan ke mulut, karena Allah menciptakan mulut untuk berada di atas bukan dibawah dan digunakan untuk makan dan minum”, hehehe gw terkekeh… ngelihat temen yang duduk di sebelah gw diam setelah gw jawab pertanyaan dia itu… and dalam budaya islam yang tinggi dan luhur dimana semua itu ada adabnya sendiri atau tata cara yang baik dan benar walaupun seks itu Halal dan isteri itu pakaian bagi lelaki dan suami itu pakaian bagi isteri tapi ia masih terikat pada adab dan harus patuh pada aturan karena seperti pepatah tidak ada kebebasan yang tanpa batas… perang ala Rasulullah ada aturannya juga kok yaitu gag boleh membunuh anak-anak, wanita, dan orang jompo atau sepuh, begitu juga dengan melakukan seks meskipun halal bagi suami istri untuk melakukan hubungan seks dan bahkan wajib, Seperti juga makan dan minum adalah suatu keharusan bagi kita manusia, maka kita harus tunduk pada adab-adab makan, seperti cuci tangan, berdoa sebelum makan,dan makan di meja makan sambil duduk di kursi, namun Barat mengajarkan cara makan yg extreme, mereka makan burger dan piza sambil berjalan,, dan meneguk air carbonated mereka sambil berjalan dan berlari. Maka seks pun begitu, kita umat Islam menikmati seks dengan beradab, maka biarkan orang Barat menikmati seks mereka dengan melampaui batas. Gempa seks atau sexual revolution yg melanda Barat amat menakutkan sekali ada yang suka seks dengan hewan dan macam-macam lah cara yang gak manusiawi sekali padahal Rasulullah sangat menyukai suatu hal yang lembut dan sewajarnya apa yang dilakukan seharusnya oleh sepasang suami istri dan dengan cara yang baik dan beradab pula….

Salah besar apabila ada yang berpendapat bahwa oral seks tidak berbahaya. Hal ini dikarenakan mulut manusia merupakan organ yang hanya di lapisi jaringan halus dan kurang elastis. Disamping itu mulut dan bibir lebih sering mengalami pecah-pecah yang mengundang resiko tertular penyakit dan melalui oral seks akan lebih mudah dan cepat. Clamidia, herpes genitalis, gonore, hepatitis B, HIV dan kutil pada alat kelamin (HPV) merupakan PMS yg paling sering di tularkan melalui kontak antara mulut dan alat kelamin. Mukosa atau jaringan halus pada mulut mudah sekali terluka dan bukan merupakan benteng yang kokoh terhadap datangnya tamu tak di undang, yakni bakteri dan virus. so think twice or more aja deh kalo mw safe beroral seks… yah kalo mw safe cari aja barrier bwt mulut untuk beroral seks cari aja di sex shop (btul ga istilahnya?? yah pokoknya toko-toko yang menjual khusus beragam alat sex.. emang sudah ada di Indon??) untuk pelindung hahaha kayak candy shop ajah di jual umum….

AKANKAH HANYA SEBUAH CERITA BAGIKU???

Gw adalah anak kota, dimana gw dilahirkan di kota besar yang udah bising dengan kendaraan bermotor walaupun dulu waktu gw masih kecil masih jarang kendaraan bermotor, gak kayak sekarang…. so bisa dibayangkan , gw ga pernah alias jarang buat bersatu dengan alam, yah paling juga ke taman bermain waktu gw kecil. Keluarga nyokap gw asli dari kota, sedangkan ayah gw dari desa cm dari keluarga kecil n dari dulu sewaktu kecil dah berkelana ke kota so dah jarang keluarga ayah gw yang didesa.
Sejak kecil gw paling senennngggg bangettttt…. dengerin cerita ayah gw tentang desa n masa kecilnya,,hal yang so amazing buat gw yang anak kota hahahaha… maklum masa kecil kan masa penuh “dream” ,, beliau cerita mengenai sawah dan bermacam-macam hewan di sawah yang subur dengan aliran airnya yang bening berasal dari sumber mata air buatan belanda yang gag pernah kering walaupun masa kemarau didesa dulu, hal yang keren apalagi saat musim hujan begini pastinya saat hujan banyak ikan yang keluar dari saluran irigasi sawah sehingga ayah gw yang suka bermain disawah dengan mudahnya mengambil ikan yang keluar dari kali atau saluran irigasi saat airnya meluap waktu hujan sambil “angon” bebek atau mengembalakan bebeknya di sawah karena bebekkan suka bangettt dengan air apalagi kalo dah musim hujan kayak sekarang… sambil makan ikan bakar hasil tangkapan nya,beliau menunggui bebeknya disawah…. dan diatas sawahnya itu banyak elang yang berterbangan saat hujan wowwwwww…. so amazing until now, I always dream about my father story.
Tapi apa dikata, saat gw dah mulai dewasa apa yang ayah gw ceritakan ke gw sangat berbalik 180° ,, sawah yang diceritakannya tidak sesubur dahulu,, tanahnya kering kerontang, tidak ada saluran irigasi yang dengan aliran airnya yang bening alias tidak terdapat air, apalagi ikannya dikali atau saluran irigasi hahaha.. mana bisa ikan hidup tanpa air… udaranya panas pula gag sejuk apalagi gw waktu itu sore ke sawah huummm… pokoknya ga ada yang menarik deh disana…. hanya tanah yang keras yang gw injak and sawah berpadi (kan ada sawah yang gak ada padinya,alias hanya hamparan tanah) yang hampir kering tanahnya. I say “ what is this?? where is the fertile land and with the water flow??”
yah yah yah hal ini sangat mungkin saja terjadi ,gak hanya di desa asal ayah gw tapi dimana pun….. awalnya subur jadi kering, yang sejuk jadi panas, yang amazing jadi so suck… yah semua bisa terjadi… karena apa??? karena kita membuat kerusakan dimuka bumi ini tapi lihatlah apakah tindakan kita saat ini atau sebelumnya telah mencerminkan seorang hamba Tuhan yang sadar dan mensyukuri apa yang ada didepannya dan yang dirasakan saat ini?? lihatlah kehidupan sehari-hari yang kita jalani saat ini take a simple dengan menghambur-hamburkan bahan bakar fosil yang semakin hari semakin berkurang karena konsumsi manusia seantero jagad dengan berjalan-jalan keliling kota untuk hal-hal yang tidak terlalu penting meskipun dengan alasan mumpung harga BBM lagi turun jadi gw jalan-jalan dunk pake motor… itu merupakan hal yang membuang-buang energy padahal kita sedang krisis energy dan ekonomi, meskipun itu hal yang sangat sepele dan kita sangat tidak memikirkan hal itu, apalagi dengan berjalannya satu kendaraan kita walaupun satu menit saja dijalan maka kita ikut menyumbangkan emisi kendaraan bermotor CO pada lingkungan serta zat-zat pencemar laen… coba kalo berjam-jam dan macet pula… memang tidak secara langsung Tuhan menurunkan akibat yang kita perbuat, tapi perlahan tapi pasti dan kalau bukan kita yang memulai saat ini lalu kapan dan siapa lagi?? apakah makhluk luar angkasa yang datang ke bumi???, sedangkan kita adalah makhluk yang menempati bumi ini dengan segala kesempurnaan dariNya yang diberi akal pikiran serta hati nurani, apakah karena kita sudah kehilangan Hati Nurani untuk tidak menjaga apa yang harusnya kita jaga???
Sungguh ironi melihat kemajuan jaman dengan banyak penemuan teknologi yang mempermudah kerja setiap insan manusia tetapi tidak diimbangi dengan rasa menyayangi dan melindungi apa yang harus kita lindungi selama ini, dialah alam… karena Tuhan menciptakan alam agar tercapai keseimbangan bagi kehidupan kita sendiri.
Tuhan menciptakan teknologi untuk mempermudah kerja manusia dan bukan untuk merusak dan membinasakan alam akibat keserakahan dan ketidaksabaran manusia,mengapa Tuhan menciptakan kata-kata “proses” atau tidak dengan cepat untuk menghasilkan sesuatu terutama manusia yang ingin menghasilkan sesuatu harus melalui suatu proses?? agar manusia itu tahu dan sadar bahwa apa yang Tuhan ciptakan bukanlah suatu hal yang mudah bagi manusia, bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dengan segala pertimbangan dan kesempurnaanNya.
Teknologi memang mempercepat suatu proses terutama proses produksi yang menghasilkan suatu barang atau mempercepat langkah kita dalam melakukan sesuatu, tapi apakah manusia itu sadar dan mengetahui bahwa segala sesuatu itu pasti ada untung dan ruginya, mungkin manusia belum menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah dilakukannya terutama memakai bahan-bahan kimia dapat merusak dan memperparah keadaan lingkungan, istilahnya sudah parah malah memperparah keadaan lingkungan alam.
Krisis pupuk yang dialami oleh petani membuat gw tertegun… betapa petani sangat ketergantungan pupuk, terutama pupuk buatan manusia dari hasil olahan bahan kimia… sedangkan kita tahu bahwa meskipun pupuk bahan kimia membuat tanaman subur tapi pupuk kimia hanyalah mengakibatkan kesuburan sementara bagi tanah dan tanaman… sedangkan dampaknya sangat berat dan panjang bagi lingkungan… menyedihkan, itulah yang terjadi sekarang… mungkin dahulu masyarakat desa ayah gw terlalu menggantungkan dengan pemakaian pupuk kimia dan pupuk kandang yang berlebihan sehingga inilah akibat yang terjadi pada desa asal ayah gw… dengan menggunakan pupuk kimia dan pupuk kandang berlebihan, maka akan merusak dan mengasamkan tanah sama dengan pencemaran udara yang dapat mengakibatkan hujan asam dan mencemari tanah dengan SO₂ , NO₂, NH₃ sehingga tanah yang sebenarnya bisa mengatur Ph nya sendiri lama kelamaan sulit mempertahankan ke buffer-annya ho..ho..ho selain itu jika bahan kimia ini masuk kedalam air maka akan membuat air tercemar dengan bahan kimia dan mengakibatkan bibit-bibit atau telur ikan menjadi mati karena panas yang dihasilkan oleh bahan kimia. hmm.. menyedihkan memang… tapi itulah yang dipilih oleh manusia, lebih cepat lebih baik meskipun akibat yang ditimbulkan sendiri sangat berdampak parah bagi lingkungan. Selain itu sumber air didesa ayah gw juga sudah tidak mengeluarkan air hmmm… kalau gw tanyakan ke ayah hal ini karena banyak pohon yang ditebangi di gunung di seberang desa ayah gw,, memang kalau gw amati diseberang desa ada pegunungan tapi memang gunungnya sudah berkurang pohonnya,, jarang gitu pohonnya sehingga lekuk tanah gunungnya terlihat dari jauh… hohoho… sehingga akar pohon yang seharusnya bisa mengikat air dalam tanah,sekarang ga ada lagi… menyedihkan bagi gw yang anak kota ternyata sekarang itu hanya sebuah cerita bagi gw… ga ada tanah yang subur dengan air yang mengalir jernih… im sorry God i cant do anything in ur real life to save my environment, im late….

Previous Older Entries